Hitung harga setelah diskon, diskon ganda/bertingkat, markup harga jual, dan simulasi harga reseller. Cocok untuk konsumen, pedagang, dan pemilik UMKM.
| Diskon | Potongan | Harga Bayar | Hemat |
|---|
Diskon ganda (misal 30%+20%) dihitung bertingkat, bukan dijumlah. Diskon 30%+20% ≠ 50% — ini yang sering disalahpahami konsumen.
Masukkan harga asal dan harga jual/harga yang tertera, sistem akan otomatis menghitung berapa persen diskonnya.
Hitung harga jual dari modal, atau tentukan harga reseller dari harga jual. Cocok untuk supplier, distributor, dan dropshipper.
Diskon dari harga normal yang diberikan ke reseller/dropshipper.
Tambahkan beberapa item belanja, masing-masing dengan diskon berbeda. Total tagihan dihitung otomatis.
| Nama Item | Harga (Rp) | Qty | Diskon % | Subtotal | |
|---|---|---|---|---|---|
| Rp0 | |||||
| Rp0 |
Diskon keseluruhan setelah semua diskon per item diterapkan.
Tidak semua diskon itu sama. Memahami cara kerja diskon membantu Anda membuat keputusan belanja dan pricing bisnis yang lebih cerdas.
Pengurangan langsung dari harga asal. Diskon 30% dari Rp100.000 = hemat Rp30.000, bayar Rp70.000. Cara paling umum dan mudah dipahami.
Diskon diterapkan berlapis. Diskon 30%+20% berarti: harga dikurangi 30% dulu, lalu hasil itu dikurangi 20% lagi. Hasilnya 44%, bukan 50%! Sering dipakai di fashion dan grosir.
Markup 30% dari modal Rp100rb = jual Rp130rb (untung Rp30rb dari modal). Margin 30% = untung 30% dari harga jual, artinya jual di Rp142rb (untung Rp42rb dari modal). Bedanya signifikan!
Diskon langsung mengurangi harga di kasir. Cashback dikembalikan setelah transaksi (kadang dalam bentuk poin). Untuk konsumen, diskon langsung biasanya lebih menguntungkan karena tidak ada syarat tambahan.
Kelola harga produk, HPP, dan margin keuntungan bisnis Anda dalam 1 template Excel.